[REVIEW] PENTAS TEATER: LOWBAT
Teater Adinda dan Sanggar Kumandang Cipta
Ide cerita dari Tabah Penemuan Siregar dan penulis naskah Exan Zen serta pengisi lagu Marjinal
Jumat, 14 Desember 2018. Saya dan teman-teman saya berkumpul di Stasiun Pondok Cina untuk menonton pertunjukkan teater, Lowbat, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Dalam teater ini, salah satu pemainnya adalah orang yang kami kenal yaitu Dosen Bahasa Indonesia kami, Rieke Presiawati dan teman saya Tasya (berperan sebagai agen tiket teater kami juga). Kami berkumpul di stasiun pukul 17.00, ketika semua telah berkumpul, rombongan kami yang kira-kira berjumlah dua belas orang berangkat menuju Stasiun Cikini. Perjalanan menuju Stasiun Cikini memakan waktu satu jam. Setelah sampai di Stasiun Cikini, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan berjalan kaki. Lima belas menit kemudian kami pun tiba di TIM. Pentas teater dimulai pukul 20.00, artinya masih ada waktu 90 menit untuk kami menunggu. Saya dan beberapa teman pun mengisi perut yang lapar dengan wisata kuliner di sekitar TIM dan sambil nongkrong santai di depan pelataran TIM, yang ramai dengan kendaraan lalu lalang ditutupi dengan awan yang mendung. Sudahlah satu paragraf awal yang sangat membosankan dan cenderung kaku, hanya sebagai narasi dalam dalam cerita yang mungkin tidak banyak orang sangka dari judulnya:) hehehe… FYI ini adalah pengalaman pertama dari penulis menonton teater di TIM.
Foto tiket teater, basis tribun atas
Setelah menunggu, serta berkumpul dan nongkrong bareng kawan-kawan Teknik Elektro UG 2015, akhirnya pintu teater pun dibuka pukul 20.00. Pas sekali gerimis pun mulai turun di daerah TIM. Karena kelas kami 4IB02 membeli tiket yang paling murah (kelas ekonomi, eh teknik) seharga 50 ribu. Maklum ada beberapa alasan memilih tiket yang harga 50 ribu (duduk di tribun atas) daripada harga 75 ribu (sayap bawah) atau 100 ribu (tengah bawah)
1. Mahasiswa, alasannya cukup bisa diperpanjang sendiri
2. Karena baru pertama nonton teater, jadi kami masih menimbang harga, mau murah ataupun mahal toh tetap sama-sama nonton (dan disini terlihat bedanya dengan bioskop, di teater tempat duduk sangat berpengaruh karna pengisi acara sangat-sangat jauh dari tempat duduk kami)
3. Kesepakatan bersama.
Setelah masuk, kami sempatkan berfoto dulu di backdrop lobi, setelah itu kami naik ke lantai 3 masuk menuju tribun atas. Seperti biasa ada pengecekan tiket dan nomor tempat duduk oleh penjaga pintu, lalu kami duduk sesuai dengan nomor di tiket. Review pertama mungkin dari kondisi tempat duduk saya, dimana saya merasa teater ini kurang terawat, dimana tempat duduk yang agak rusak dan berdebu (jarang dibersihkan mungkin), tiang besi yang juga sudah pudar catnya dan agak goyang. Tak berapa lama pun dari waktu kami duduk, pertunjukkan pun dimulai…
Foto dengan beberapa kawan Teknik Elektro 2015 di backdrop Lowbat
Cerita dimulai dari pembukaan oleh MC (atau apalah namanya dalam seni teater), dia memberikan narasi untuk memulai pertunjukkan ini mulai dari judul, penulis, sanggar dan sebagainya. Nah, ditengah pembacaan narasi tersebut, muncul adegan yang bisa dibilang ekstrem menurut saya, dari beberapa penjuru kursi penonton (yang mungkin bagian dari pengisi acara orang-orangnya). Kenapa ekstrem? Ya karena adegan seperti ini tidak bisa dilakukan di sembarangan tempat, hanya di teater lah adegan-adegan seperti ini sangat bisa terjadi (maklum gak ada namanya KPI nonton dimari). Jadi ceritanya adalah dari beberapa orang di kursi penonton tidak terima dengan pernyataan si MC, mulai dari pengucapan sanggar seni yang salah katanya sampai keluar kata-kata kebun binatang, seperti “anj*ing” dan sebagainya. Akhirnya si MC dipaksa keluar dari panggung oleh orang-orang dari tribun penonton tersebut sampai si MC bilang, “tidak perlu seret-seret saya, saya bisa jalan sendiri”. Inilah adegan wow pertama di pertunjukkan ini. Pengalaman tidak bisa bohong, dan saya yakin dibelakang layar pertunjukkan ini banyak orang-orang berpengalaman tersebut. Ya pengalaman buat apa bray? Ya pengalaman kalau ada adegan ekstrem di pre-opening gini semua akan baik-baik saja dan pertunjukkan tetap berlangsung normal. Very Nice Pre-Opening.
Sebelumnya saya bingung maksudnya Lowbat tuh apasih? Apakah akronim, atau bener-benar tersurat Lowbat dalam pertunjukkan nanti? Hmmm… I know, this is the special from theater. Teater mengajak kita berfikir, bahkan sebelum pertunjukkan dimulai atau lebih tepatnya ketika ketika membaca judulnya, apakah maksudnya atau apakah ceritanya nanti. Ya berfikir, yang sebetulnya menjadi krisis dari bangsa ini karena terlalu banyak budaya cepat saji dan terlalu konsumtif di bangsa ini. Ya silahkan cerna sendiri maksud saya.
Sampai pertanyaan yang ada di kepala saya sebelum berangkat “mungkin” sedikit terjawab di opening pertunjukkan ini, dimana second cast saya sebut, yang jumlahnya mungkin dua puluh orang, mensuratkan makna lowbat sesungguhnya ke dalam pertunjukkan. Dimana lowbat mungkin familiar dalam kehidupan kita sehari hari, low battery dari handphone second cast dirangkai dengan teatrikal, musikal dan istilah teater lainnya yang saya sendiri kurang paham teorinya. Mengikuti gerakan serasi pasangan cast lain, lightning, dan suara yang dirangkai jadi satu. Teater itu rumit jika kalian tidak paham! Walaupun menurut saya standar, tapi setidaknya opening ini bisa menjawab “sedikit” apa itu lowbat dalam pertunjukkan teater ini. Standard but important!
Foto adegan Jiva dan Mei Wha
Adegan setelah opening, sebut saja babak I, dengan latar di taman di tengah kawasan apartemen kota. Terdapat dua insan, laki-laki (Jiva) dan perempuan (Mei Wha) dengan kesibukan masing-masing dari mereka duduk di bangku taman. Secara tersurat dalam adegan pertunjukkan, diketahui bahwa Mei Wha adalah seorang penulis atau content creator dan Jiva adalah seorang pemain teater dari kafe ke kafe. Maksud cerita tetap konsisten dengan lowbat seperti pada opening sebelumnya, dimana Jiva, yang ingin menelpon orang tuanya mempunyai masalah dengan hp-nya yang lowbat sehingga tidak bisa menelpon orang tua nya. Mei Wha, sibuk dengan laptopnya atau mungkin pekerjaannya, tidak memperhatikan keadaan sekitar atau bisa dibilang sedikit apatis, dan akhirnya laptop yang dia gunakan untuk menulis pun akhirnya lowbat juga. Jiva yang merupakan laki-laki tipe blak-blakan, tanpa malu ingin meminjam hp Mei Wha. Mei Wha risih dan menolaknya. Ya ini masih hanya sebatas konflik kecil, masih sesuai dengan judulnya, Lowbat. Dan saya menangkap ketika handphone ataupun laptop dari pemeran lowbat, baru terjadi interaksi ataupun kehidupan sesungguhnya dari manusia. Yes, the story starts now!
Setelah adegan konflik kecil tersebut, mereka pun berkenalan. Nah dalam adegan selanjutnya terjadi cek-cok yang lebih besar, Mei Wha, yang menulis tentang Penderitaan Tukang Sol Septu Miskin, dikritik oleh Jiva, yang bilang bahwa tulisan itu hanya perspektif orang yang tinggal di apartemen mewah seperti Mei Wha. Ya, menurut Jiva seorang penulis yang baik harus mampu meliha ke bawah secara menyeluruh. Itulah yang saya tangkap maksud dari si jiva. Mei Wha membalas bahwa dia tidak mendengarkan kritik hanya dari pemain teater miskin. Ya perempuan selalu sensitif. Yah cek-cok itu berakhir dengan kata-kata puitis Jiva yang menganggap bahwa ada yang salah di negeri ini. Bahwa konflik antara golongan Ratungga dan Aboya, demo dimana-mana dan segala masalah bangsa ini.
Komentar saya untuk cerita dari babak I ini, dari cerita esensi untuk penonton awam yang tidak mengerti carut-marut negeri ini mungkin kurang faham untuk melanjutkan ke babak II. Bahwa lowbat mungkin hanya kulitnya saja, tapi untuk buahnya really different than this title, secara tersurat. Secara tersirat? Mungkin ada, sesuai perspektif dari penonton. Ya sesuai perspektif? Karena penonton bebas menafsirkan maksud atau buah dari cerita babak I nya. Untuk cerita, latar dan second scenes nilai 8 (second scenes bagi saya scene pembantu dari tiap-tiap babak, misalnya orang lewat melakukan suatu hal untuk menunjang keberlangsungan cerita). Good but not the best
Untuk karakter, Jiva sangat mendalami, menjiwai karakter yang ia perankan. Sebagai pemain teater kafe, yang dituntut memainkan kemampuan pekerjaannya dalam sebuah interaksi dan melawan seorang penulis. Sangat tepat dengan kemampuan dan pengalaman (mungkin) dari Jiva. Nilai 9. Totalitas
Untuk karakter Mei Wha, pembawaannya baik namun tidak sebagus dan se-totalitas Jiva, sehingga disini kurang bisa mengimbangi peran dari Jiva yang sangat kuat. Seorang penulis harunya bisa lebih mengeksplor lagi karakternya melawan Jiva yang seorang pemain teater. Mungkin bisa memainkan kata-kata lagi karena dia seorang penulis. Nilai 7. Good.
Foto Nusapati dan Soka di Penjara
Alur langsung membawa babak II, dimana kita disuguhkan dengan suasana yang mencekam, dengan latar di penjara, tepatnya di luar sel tempat besuk. Terdapat dua tokoh pemeran, Nusapati dan Soka. Diceritakan bahwa Nusapati, seorang narapidana yang sangat menyesali perbuatan di masa lalu. Lalu Soka, seorang Jurnalis yang membujuk agar Nusapati membongkar hal-hal yang dianggap perlu demi kebaikan negeri ini. Familiar.
Lalu percakapan antara Nusapati dan Soka pun dimulai, mulai dengan membicarakan tentang keadaan bangsa (Kertagama), yang disebut Nusapati orang-orangnya telah kehilangan akal sehat dan hati nurani, perang politik dan kekuasaan yang sedemikian kotor dan memuakkan. Perebutan kekuasaan? In Capital City? Ya sudah rahasia umum kalau disini. Dirty.
Diceritakan bahwa sebelumnya, dua kelompok atau kubu di Kertagama, Aboya dan Ratungga, dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan kekuasaan. Dimana Aboya, terus menerus melakukan demo dan aksi masa, sedangkan Ratungga menjadi sasarannya karena dituduh, sekali lagi dituduh menistakan agama. Perang kekuasaan terus terjadi menjelang pilkita, dimana membuat Kertagama hancur karena beda pandangan politik. Ya yang seharusnya bisa dihindari dan tidak terjadi di negara yang sudah dewasa. Lalu rumah ibadah menjadi alat untuk kampanye, nama tuhan diumbar semaunya, ancaman surga dan neraka dalam politik dan gerakan paling fenomenal dilarang memilih pemimpin beda agama. Ya Nusapati sedih karena kekacauan yang sekarang terjadi di Kertagama. Ya dari perwatakan dan percakapan, Nusapati sepertinya berada di kubu Ratungga. Ya menurut Nusapati, tanda-tanda akhir zaman sudah terlihat, munculnya nabi palsu dan dunia akan hancur, termasuk Kertagama. Ya Soka juga mengiyakan apa yang sedang terjadi di Kertagama.
Nusapati, yang merupakan mantan politikus, ditahan seumur hidup di dalam sel karena suatu kesalahan di masa lalu (yang akan diceritakan ketika babak flashback). Soka datang ke sel bermaksud untuk menghasut Nusapati agar keterangannya pada masa lalu dapat mendamaikan manusia. Ya Nusapati ragu karena ia masih sangat berdosa dengan perbuatannya di masa lalu.
Foto Nusapati muda dan kejora, yang berujung “pembunuhan”
Babak Flashback Nusapati.Nusapati muda, yang bergelora, semangat muda membara dan ambisius. Kejora, teman wanita Nusapati. Berlatar di dalam kamar hotel. Nusapati merupakan politikus yang memperjuangkan aktivis mahasiswa, serta memngungkap beberapa kasus seperti penculikan dan pelenyapan aktivis mahasiswa. Ia dianggap beranidalam memberantas korupsi juga. Saat itulah ia banyak tidak disukai oleh beberapa orang besar. Namun panggung ketika itu milik Nusapati. Ia juga menciduk beberapa politikus busuk, pamornya terus melambung dan dielukan sebagai pahlawan oleh masyarakat. Dan dianggap sebagai pengkhianat oleh beberapa politikus busuk. Antasari Azhar?
Ketika sedang dalam kamar hotel itupun, datang Marimba, kekasih kejora dan terjadi perkelahian karena dugaan Nusapati mengkhianati Marimba. Marimba terbunuh dalam sebuah perkelahian. Lalu kemudian polisi datang dan menyeret Nusapati kedalam tahanan hingga kini. Disini saya menangkap bahwa Kejora lah yang menjebak Nusapati atas perintah orang besar. Nasrudin Zulkarnaen?
Kembali lagi degan plot sebelumnya, Nusapati menceritakan kepada Soka bahwa ia merasa dijebak dalam pembunuhan tersebut kerena ia telah menangkap petinggi negara ketika masih bertugas di lembaga anti korupsi. Dengan siasat yang sistematis dan bersih, Nusapati akhirnya berhasil dijebloskan kedalam penjara. Soka masih berusaha merayu untuk melakukan konferensi pers dan membuat pernyataan konspirasi penguasa terdahulu yang menyebabkan kondisi ia sekarang serta menangkal politik busuk di Kertagama yang tengah menjelang waktu Pemilihan Kepala Negara. Surabaya? Mulia Pohon?
Komentar saya untuk babak ini, saya jadi teringat sebuah talkshow di sebuah stasiun televisi, Tendangan Andy, yang juga berlatar sama, tokoh wawancara identik. Bisa dilihat di Yutub untuk videonya, “Antasari Azhar 16 Januari 2015”. Ya sangat identik dan bisa dikatakan mirip bahkan sama. Buat penonton yang tahu kasusnya, pasti sudah bisa menebak kemana alur selanjutnya dari babak ini dan diajak berpikir seolah melihat reka adegan dari Sang Mantan Ketua KPK.
Untuk penokohan di penjara, saya beri nilai sama untuk mereka (Nusapati Tua dan Soka), 8, not bad karena mereka tidak terlalu dominan menguasai penggung saya lihat. Untuk pengungkapan cerita, alur, latar saya beri nilai 9 karena sangat pas dengan keadaan dan situasi di negeri mafia saat ini. Untuk Nusapati muda, Kejora dan Marimba, walaupun hanya adegan pembantu dari adegan penjara, saya beri nilai 7,5. Vulgar namun dari latar tempat juga kurang. Kurang apa? Kurang ajar ehhh… hehehe bukan, kurang penekanan bahwa iu sebuah konspirasi. Secara keseluruhan, babak yang paling saya sukai karena saya mengikuti Kasus Aslinya dan merasa dibawa ke reka adegan mini.
Setelah babak ini pun saya berpendapat bahwa hanya adegan pelengkap, atau efek dari babak II yang merupakan babak utama menurut saya. Mulai dari pernyataan Nusapati yang membuat arah angin plotik menyerang kepala negara terdahulu, perang dari dua kelompok yang berseteru sebelumnya, Jiva dan Mei Wha yang muncul kembali tapi esensi dan makna dari mereka tidak secemerlang babak I.
Foto Adegan Kiamat
Terakhir adalah adegan kiamat kecil yang meruntuhkan dunia, dimana saya bingung apakah ini nyata ataupun fiksi, karena didalam panggung, dua orang yaitu Jiva dan Mei Wha masih diberikan kesempatan untuk hidup dengan mengikuti cahaya kehidupan nyata. Fiksi? Sedangkan kalau pun nyata pasti semua orang akan rata, mati semua. Menurut saya, ada babak yang hilang sebelum babak kiamat ini, atau bisa disebut kurang. Karena pernyataan Nusapati efeknya terlalu kecil di dunia, tapi menyebabkan efek sebesar kiamat. Tidak ada kecelasan soal babak sebelum ini. Terakhir Abah pun muncul sebagai Tuhan yang berjubah merah. Abah ialah tabah Penemuan Siregar.
Opening 8, Isi 9 (kalau dibungkus dengan benar 10), ending 7,5. Intinya membuat para penonton berpikir, mulai sebelum masuk graha, ketika didalam dan ketika keluar menuju jalan pulang. Simpel. Inilah review teater Lowbat versi saya. Sekian, nama saya Ega.
Credit to:
Mei wha : Lilis Ireng
Jiva : Lucky Moniaga
Nusapati : Jack Wasiman
Soka : Sari chikata
Kinar : Tengku Rina
Sania : Titieq Chemonk
Turonggo (nusapati muda) : Poeljangga
Marimba : Reda Saudia
Al Hadid : Tabah Penemuan Siregar
Musik : Marjinal
All Crew and Cast Lowbat
Dosen Bu Rieke Presiawati
Dan seluruh teman-teman Teknik Elektro 2015 UG









No comments:
Post a Comment