IBD UG
Pengertian
Agama
Kata
agama berasal dari bahasa Sansekerta dari kata a berarti
tidak dan gama berarti kacau. Kedua kata
itu jika dihubungkan berarti sesuatu yang tidak kacau. Jadi fungsi agama dalam
pengertian ini memelihara integritas dari seorang atau sekelompok orang agar
hubungannya dengan Tuhan, sesamanya, dan alam sekitarnya tidak kacau. Karena
itu menurut Hinduisme, agama sebagai kata benda berfungsi memelihara integritas
dari seseorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan realitas
tertinggi, sesama manusia dan alam sekitarnya. Ketidak kacauan itu disebabkan
oleh penerapan peraturan agama tentang moralitas,nilai-nilai kehidupan yang
perlu dipegang, dimaknai dan diberlakukan.
Pengertian itu jugalah
yang terdapat dalam kata religion (bahasa Inggris) yang berasal dari kata
religio (bahasa Latin), yang berakar pada kata religare yang berarti mengikat.
Dalam pengertian religio termuat peraturan tentang kebaktian bagaimana manusia
mengutuhkan hubungannya dengan realitas tertinggi (vertikal) dalam penyembahan
dan hubungannya secara horizontal (Sumardi, 1985:71)
Agama
itu timbul sebagai jawaban manusia atas penampakan realitas tertinggi secara
misterius yang menakutkan tapi sekaligus mempesonakan Dalam pertemuan itu
manusia tidak berdiam diri, ia harus atau terdesak secara batiniah untuk merespons.Dalam kaitan ini ada juga yang mengartikan
religare dalam arti melihat kembali kebelakang kepada hal-hal yang berkaitan
dengan perbuatan tuhan yang harus diresponnya untuk menjadi pedoman dalam
hidupnya.
Agama
dan Budaya
Budaya menurut
Koentjaraningrat (1987:180) adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan
hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik
manusia dengan belajar.
Jadi budaya diperoleh
melalui belajar. Tindakan-tindakan yang dipelajari antara lain cara makan,
minum, berpakaian, berbicara, bertani, bertukang, berrelasi dalam
masyarakat adalah budaya. Tapi kebudayaan tidak saja terdapat dalam soal
teknis tapi dalam gagasan yang terdapat dalam fikiran yang kemudian terwujud dalam
seni, tatanan masyarakat, ethos kerja dan pandangan hidup. Yojachem Wach
berkata tentang pengaruh agama terhadap budaya manusia yang immaterial bahwa
mitologis hubungan kolektif tergantung pada pemikiran terhadap Tuhan. Interaksi
sosial dan keagamaan berpola kepada bagaimana mereka memikirkan Tuhan,
menghayati dan membayangkan Tuhan (Wach, 1998:187).
Lebih tegas dikatakan
Geertz (1992:13), bahwa wahyu membentuk suatu struktur psikologis dalam benak
manusia yang membentuk pandangan hidupnya, yang menjadi sarana individu atau
kelompok individu yang mengarahkan tingkah laku mereka. Tetapi juga wahyu bukan
saja menghasilkan budaya immaterial, tetapi juga dalam bentuk seni suara,
ukiran, bangunan.
Dapatlah disimpulkan
bahwa budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan
kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi
dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan
beberapa kondisi yang objektif.
Faktor kondisi yang
objektif menyebabkan terjadinya budaya agama yang berbeda-beda walaupun agama
yang mengilhaminya adalah sama. Oleh karena itu agama Kristen yang tumbuh di
Sumatera Utara di Tanah Batak dengan yang di Maluku tidak begitu sama sebab
masing-masing mempunyai cara-cara pengungkapannya yang berbeda-beda. Ada juga
nuansa yang membedakan Islam yang tumbuh dalam masyarakat dimana pengaruh
Hinduisme adalah kuatdengan yang tidak. Demikian juga ada perbedaan antara
Hinduisme di Bali dengan Hinduisme di India, Buddhisme di Thailan dengan yang
ada di Indonesia. Jadi budaya juga mempengaruhi agama. Budaya agama tersebut
akan terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam
kondisi objektif dari kehidupan penganutnya (Andito,ed,1998:282).Tapi hal pokok
bagi semua agama adalah bahwa agama berfungsi sebagai alat pengatur dan
sekaligus membudayakannya dalam arti mengungkapkan apa yang ia percaya dalam
bentuk-bentuk budaya yaitu dalam bentuk etis, seni bangunan, struktur
masyarakat, adat istiadat dan lain-lain. Jadi ada pluraisme budaya berdasarkan
kriteria agama. Hal ini terjadi karena manusia sebagai homoreligiosus merupakan
insan yang berbudidaya dan dapat berkreasi dalam kebebasan menciptakan pelbagai
objek realitas dan tata nilai baru berdasarkan inspirasi agama.
Agama
dan budaya Indonesia
Jika kita teliti
budaya Indonesia, maka tidak dapat tidak budaya itu terdiri dari 5
lapisan. Lapisan itu diwakili oleh budaya agama pribumi, Hindu, Buddha, Islam
dan Kristen (Andito, ed,1998:77-79)
Lapisan
pertama adalah agama pribumi yang memiliki ritus-ritus yang berkaitan dengan
penyembahan roh nenek moyang yang telah tiada atau lebih setingkat yaitu
Dewa-dewa suku seperti sombaon di
Tanah Batak, agama Merapu di Sumba, Kaharingan di Kalimantan. Berhubungan
dengan ritus agama suku adalah berkaitan dengan para leluhur menyebabkan
terdapat solidaritas keluarga yang sangat tinggi. Oleh karena itu maka ritus
mereka berkaitan dengan tari-tarian dan seni ukiran, Maka dari agama
pribumi bangsa Indonesia mewarisi kesenian dan estetika yang tinggi dan
nilai-nilai kekeluargaan yang sangat luhur.
Lapisan kedua dalah
Hinduisme, yang telah meninggalkan peradapan yang menekankan pembebasan rohani
agar atman bersatu dengan Brahman maka dengan itu ada solidaritas mencari
pembebasan bersama dari penindasan sosial untuk menuju kesejahteraan yang utuh.
Solidaritas itu diungkapkan dalam kalimat Tat Twam Asi, aku adalah engkau.
Lapisan ketiga adalah
agama Buddha, yang telah mewariskan nilai-nilai yang menjauhi ketamakan dan
keserakahan. Bersama dengan itu timbul nilai pengendalian diri dan mawas
diridengan menjalani 8 tata jalan keutamaan.
Lapisan keempat adalah
agama Islam yang telah menyumbangkan kepekaan terhadap tata tertib kehidupan
melalui syari’ah, ketaatan melakukan shalat dalam lima waktu,kepekaan terhadap
mana yang baik dan mana yang jahat dan melakukan yang baik dan menjauhi yang
jahat (amar makruf nahi munkar) berdampak pada pertumbuhan akhlak yang mulia.
Inilah hal-hal yang disumbangkan Islam dalam pembentukan budaya bangsa.
Lapisan kelima adalah
agama Kristen, baik Katholik maupun Protestan. Agama ini menekankan nilai kasih
dalam hubungan antar manusia. Tuntutan kasih yang dikemukakan melebihi arti
kasih dalam kebudayaan sebab kasih ini tidak menuntutbalasan yaitukasih tanpa
syarat. Kasih bukan suatu cetusan emosional tapi sebagai tindakan konkrit yaitu
memperlakukan sesama seperti diri sendiri. Atas dasar kasih maka gereja-gereja
telah mempelopori pendirian Panti Asuhan, rumah sakit, sekolah-sekolah dan
pelayanan terhadap orang miskin.
Dipandang dari segi
budaya, semua kelompok agama di Indonesia telah mengembangkan budaya agama
untuk mensejahterakannya tanpa memandang perbedaan agama, suku dan ras.
Disamping pengembangan
budaya immaterial tersebut agama-agama juga telah berhasil mengembangkan budaya
material seperti candi-candi dan bihara-bihara di Jawa tengah, sebagai
peninggalan budaya Hindu dan Buddha. Budaya Kristen telah mempelopori
pendidikan, seni bernyanyi, sedang budaya Islam antara lain telah mewariskan
Masjid Agung Demak (1428) di Gelagah Wangi Jawa Tengah. Masjid ini beratap tiga
susun yang khas Indonesia, berbeda dengan masjid Arab umumnya yang beratap
landai. Atap tiga susun itu menyimbolkan Iman, Islam dan Ihsan. Masjid ini
tanpa kubah, benar-benar has Indonesia yang mengutamakan keselarasan dengan alam.Masjid
Al-Aqsa Menara Kudus di Banten bermenaar dalam bentuk perpaduan antara
Islam dan Hindu. Masjid Rao-rao di Batu Sangkar merupakan perpaduan
berbagai corak kesenian dengan hiasan-hiasan mendekati gaya India sedang
atapnya dibuat dengan motif rumah Minangkabau (Philipus Tule 1994:159).
Kenyataan adanya
legacy tersebut membuktikan bahwa agama-agama di Indonesia telah membuat
manusia makin berbudaya sedang budaya adalah usaha manusia untuk menjadi
manusia.
Kesimpulan
Kesimpulan dari materi
Budaya dan Agama adalah Salah
satu syarat yang teramat penting dalam kehidupan manusia adalah keyakinan, yang
oleh sebagian orang dianggap sebagai agama.
Yang menjadi pokok utama bagi manusia untuk mempercayai
Tuhan dan perlunya hidup beragama adalah kebutuhan manusia akan rasa aman.
Mereka yakin tiada daya dan upaya yang akan mempengaruhi kalau Tuhan tidak
mengizinkan. Tuhan yang kita maksud adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki
kekuatan dan kasih sayang serta Tuhan yang menjadi sasaran beribadah.
Bagi orang yang percaya kepada Tuhan, perasaannya merasa
selalu dilindungi oleh Tuhan baik dalam keadaan apapun, mereka tidak merasa
takut. Kita perlu mempunyai kepercayaan terhadap Tuhan, mengingat kebutuhan
jiwa pada diri kita. Begitu juga dengan orang yang kehilangan kepercayaan diri,
harga diri dan kasih sayang, kalau mereka percaya akan Tuhan maka mereka akan
bisa menghadapinya dengan penuh ketenangan.
Budaya yang digerakkan
agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai
hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup
pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif.
-I
Putu Ega Septa 1IB02
Daftar Pustaka
No comments:
Post a Comment